(jilid 1)
Pagi itu angin menyapa dengan
bedanya. Kami yang sedang dihantui rasa takut akan ujian beberapa hari yang akan datang kecuali ‘dia. Ya. . . Dia adalah seorang sahabat
yang misterius lebih ke manusia berhati malaikat. Kenapa? Ia rela membuat
catatan yang mungkin ia catat dengan suntuk semalaman untuk teman- temannya baca, pahami dan mengaplikasikannya terutama saat ujian nanti.
Catatan itu beda ‘banget’ , terdiri dari lembaran-lembaran yang isinya cukup panjang. Tapi rasanya tidak ada yang tertarik dengan catatan itu, kecuali aku. Aku yang dipinjamkan, tapi lebih ke yang dikasih “catatan istimewa itu” oleh dia temanku yang berhati mulia.
Catatan itu beda ‘banget’ , terdiri dari lembaran-lembaran yang isinya cukup panjang. Tapi rasanya tidak ada yang tertarik dengan catatan itu, kecuali aku. Aku yang dipinjamkan, tapi lebih ke yang dikasih “catatan istimewa itu” oleh dia temanku yang berhati mulia.
Di mulai dari catatan inilah ku merasa
berubah. Catatan yang sampai sekarang masih kusimpan dengan baiknya, walaupun
sudah lusuh tapi tetap bagiku catatan yang istimewa ini ku anggap sebagai “catatan
hidayah”
Catatan itu adalah:
“Ada
sebuah dilema yang menjadi sebuah keniscayaan ketika ia berhadapan dengan
kehidupan manusia. Dilema ini sering menjadi stimulasi bagi tercipta sebuah
keadaan yang membingungkan ketika manusia mulai memasuki ruang lingkup dilemma tersebut.
Dilema tersebut adalah suatu keadaan dimana manusia harus memilih diantara dua
pilihan. Tidak hanya itu, ketika manusia mulai memilih maka ada beberapa hal
yang harus dipertahankan demi mencapai sebuah solusi dan terkadang kesalahan
dalam memilih yang sekaligus salah dalam mempertahankan akan menyebabkan suatu
keadaan yang menguntungkan si pelaku, ‘Malahan’, ia semakin terbawa lebih dalam
dilematika kehidupan manusia.
Seorang
suami, ketika ia dihidupkan oleh sebuah situasi dimana ia harus member makan
kepada anak dan istrinya maka satu hal yang pasti dipikirkanya adalah bagaimana
caranya memperoleh uang. Namun, hal itu baru merupakan problem awal. Lebih lanjut,
ia akan dihadapi oleh dua pilihan yakni apakah dengan cara yang halal ia harus
mendapatkan uang atau sebaliknya, ketika ia mulai memilih maka pertaruhanpun
dimulai. Apa yang dipertaruhkan ? Integritas (kejujuran)!! Itu adalah suatu hal
yang merupakan taruhan utama ketika ia mulai memilih.
Lalu
muncul sebuah argumentasi yang menyatakan bahwa kita hidup di dunia dapat
mengambil jalan mana saja. Apakah itu jalan yang halal ataupun sebaliknya. Semua
tergantung situasi. Maka, ketika situasi begitu mendesak, jalan apapun dapat
kita lakukan walaupun itu bertentangan dengan nilai-nilai yang ada. Selain itu
kondisi Negara serta masyarakat kita yang sedemikian kotornya dari
tindakan-tindakan curang memungkinkan untuk kita ambil bagian dalam perebutan
kualitas hidup yang lebih baik. Jadi, untuk apa kita pertahankan kejujuran kita
sedangkan orang-orang lebih dahulu mengabaikan kejujurannya.
Mungkin
statement terakhir tersebut cukup membuat kita terpengaruh untuk memasuki
dunianya orang-orang curang. Namun, apakah seperti itu? Apakah hasil yang diraih dari ketidakjujuran selalu
menyenangkan? Dan apa yang kita cari dari kehidupan ini? Pertanyaan-pertanyaan
ini harus kita jawab sebagai sebuah kebingungan kita saat ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar