Allah

Senin, 04 Mei 2015

Ketika Kecurangan Menjadi Solusi Terakhir


(jilid 1)
Pagi itu angin menyapa dengan bedanya. Kami yang sedang dihantui rasa takut akan ujian beberapa hari yang akan datang kecuali ‘dia. Ya. . . Dia adalah seorang sahabat yang misterius lebih ke manusia berhati malaikat. Kenapa? Ia rela membuat catatan yang mungkin ia catat dengan suntuk semalaman untuk teman- temannya baca, pahami dan mengaplikasikannya terutama saat ujian nanti.
Catatan itu beda ‘banget’ , terdiri dari lembaran-lembaran yang isinya cukup panjang. Tapi rasanya tidak ada yang tertarik dengan catatan itu, kecuali aku. Aku yang dipinjamkan, tapi lebih ke yang dikasih “catatan istimewa itu” oleh dia temanku yang berhati mulia.
Di mulai dari catatan inilah ku merasa berubah. Catatan yang sampai sekarang masih kusimpan dengan baiknya, walaupun sudah lusuh tapi tetap bagiku catatan yang istimewa ini ku anggap sebagai “catatan hidayah”

Catatan itu adalah:

“Ada sebuah dilema yang menjadi sebuah keniscayaan ketika ia berhadapan dengan kehidupan manusia. Dilema ini sering menjadi stimulasi bagi tercipta sebuah keadaan yang membingungkan ketika manusia mulai memasuki ruang lingkup dilemma tersebut. Dilema tersebut adalah suatu keadaan dimana manusia harus memilih diantara dua pilihan. Tidak hanya itu, ketika manusia mulai memilih maka ada beberapa hal yang harus dipertahankan demi mencapai sebuah solusi dan terkadang kesalahan dalam memilih yang sekaligus salah dalam mempertahankan akan menyebabkan suatu keadaan yang menguntungkan si pelaku, ‘Malahan’, ia semakin terbawa lebih dalam dilematika kehidupan manusia.
Seorang suami, ketika ia dihidupkan oleh sebuah situasi dimana ia harus member makan kepada anak dan istrinya maka satu hal yang pasti dipikirkanya adalah bagaimana caranya memperoleh uang. Namun, hal itu baru merupakan problem awal. Lebih lanjut, ia akan dihadapi oleh dua pilihan yakni apakah dengan cara yang halal ia harus mendapatkan uang atau sebaliknya, ketika ia mulai memilih maka pertaruhanpun dimulai. Apa yang dipertaruhkan ? Integritas (kejujuran)!! Itu adalah suatu hal yang merupakan taruhan utama ketika ia mulai memilih.
Lalu muncul sebuah argumentasi yang menyatakan bahwa kita hidup di dunia dapat mengambil jalan mana saja. Apakah itu jalan yang halal ataupun sebaliknya. Semua tergantung situasi. Maka, ketika situasi begitu mendesak, jalan apapun dapat kita lakukan walaupun itu bertentangan dengan nilai-nilai yang ada. Selain itu kondisi Negara serta masyarakat kita yang sedemikian kotornya dari tindakan-tindakan curang memungkinkan untuk kita ambil bagian dalam perebutan kualitas hidup yang lebih baik. Jadi, untuk apa kita pertahankan kejujuran kita sedangkan orang-orang lebih dahulu mengabaikan kejujurannya.
Mungkin statement terakhir tersebut cukup membuat kita terpengaruh untuk memasuki dunianya orang-orang curang. Namun, apakah seperti itu? Apakah  hasil yang diraih dari ketidakjujuran selalu menyenangkan? Dan apa yang kita cari dari kehidupan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab sebagai sebuah kebingungan kita saat ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar