masih ingat dengan "catatan hidayah" itu ? inilah kelanjutannya . . .
Cobaan dan Esensinya
Adalah satu hal yang mutlak bagi seseorang yang menjalani kehidupan ini. Tidak ada satupun manusia yang hidup tanpa diberikan cobaan.Cobaan ini tampil dengan berbagai macam corak. Intensitasnya pun berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, satu hal yang pasti dalam kita memahami esensi (hakekat) cobaan ini adalah bahwa cobaan tersebut sesuai dengan apa yang manusia mampu. Tuhan adalah Maha bijaksana. Dia tidak akan memberikan cobaan kepada manusia ketika manusia tidak mampu menanggungnya. Dia bukanlah wujud yang kejam yang dengan sekehendak-Nya menimpakan suatu cobaan yang begitu berat yang tidak sesuai dengan kemampuan manusia.
Akan tetapi, muncul berbagai keberatan yang mengomentari perbuatan Tuhan atas cobaan yang diberikan-Nya kepada umat manusia. Apakah disini Tuhan telah berbohong? atau Tuhan lupa dalam menentukan kadar cobaan yang harus manusia hadapi? Tidak, sekali-kali Tuhan tidaklah demikian! Seandainya Ia telah berbohong atau lupa maka kehancuran hidup manusia seharusnya terjadi pada masa sebelum kita. Ataupun, kesinergisan dari mekanisme kehidupan yang sedemikian kompleksnya tidak akan dapat tercipta ketika Tuhannya suka berbohong atau lupa. Kita tidak akan pernah menemukan orang-orang yang hidup bahagia pada masa kita ini ataupun masa-masa sebelum kita.
Dan seandainya Tuhan lupa dalam mengatur mekanisme kehidupan ini maka tidak akan pernah ada tatanan kehidupan begitu menakjubkan ini. Kita lihat dari tingkat makro yakni struktur alam semesta yang telah terangkai sedemikian rupa dengan tingkat ketelitian dan kecermatan yang begitu tinggi. Kesalahan sedikit saja dapat menyebabkan ketidakseimbangan yang akan memulai proses penghancuran alam semesta. Begitu juga untuk tingkat mikro, struktur sel yang di dalamnya terdapat organela-organela penting telah didesain sedemikain rupa dengan memperhatikan nilai-nilai kegunaan dari organela-orgenela tersebut. Jadi, apakah yang akan terjadi ketika Tuhan mulai lupa dalam pengaturan kehidupan ini. Sekarang, apakah yang menjadi kendala dalam manusia menghadapi ujian atau cobaan dari Tuhan. Dan tidak sering, usaha tersebit berbuntut pada kegagalan.
Sebenarnya, yang menjadi masalah adalah bentuk penyikapan seseorang dalam menghadapi cobaan. Kesalahan dalam menyikapi suatu cobaan akan mendatangkan suatu ketimpangan dalam kita memaknai esensi cobaan. Dan tak jarang, banyak orang yang menyikapi suatu permasalahan dengan metode yang begitu buruk. Akhirnya, ia keluar dari suatu jalan yang lebih ditetapkan oleh-Nya. Lalu, ia semakin terpuruk dalam menjalani kehidupan ini. Mentalnya semakin di cekam. Kekhawatiran akan kesusahan semakin terbayang. Hidup dipenuhi rasa was-was. Jangan-jangan ia akan gagal dan menjadi manusia yang hina di lingkungan sosialnya.
Lalu, apa manfaat dari cobaan itu sendiri? Menghadapi sebuah cobaan, yang pertama kali harus ada adalah kesiapan. Semakin siap ia dalam menghadapi suatu cobaan, semakin ia dapat menyelesaikan dengan baik cobaan tersebut lalu meraih kesuksesan. Ketika seseorang mengatakan ia tidak siap lalu mengatakan "PAS" atas cobaan yang sedang ia hadapi, maka ia akan luput untuk memperkuat kesiapannya. Misalnya saja kesiapan seseorang sebesar buah apel, lalu ia diberikan cobaan oleh Tuhan sebesar buah apel pula maka ketika ia menghadapi cobaan tersebut, sudah tentu ia pasti mampu untuk menyelesaikan karena kesiapan dengan cobaan kadarnya sebanding. Dan ketika ia mulai membenturkan dirinya dengan cobaan tersebut maka kesiapannya dalam menghadapi masalah akan lebih besar. Akan tetapi seseorang yang dikarenakan ketakutannya akan suatu cobaan, lalu ia menghindari ataupun melakukan hal-hal yang di luar koridor kebenaran maka pada saat itu kesiapannya tidak akan berkembang. Dan yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah ketika datang suatu cobaan yanglebih besar dari sebelumnya. Ketika hal itu terjadi apakah kita akan mngatakan bahwa cobaan itu tidak setara dengan kesiapan kita? Sama sekali tidak. Merupakan kesalahan kita ketika kita menghindari segala macam cobaan yang diberikan Tuhan. Tuhan tidaklah salah dalam masalah ini. Yang salah adalah kita. Mengapa kita pada saat itu menghindari cobaan-Nya? Dimana kita pada saat itu? Apakah kita belum terbangun dalam tidur panjang kita yang selalu memimpikan kesuksesan tanpa harus berusaha lebih keras?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar